Bikin Jamaah Tersentuh, Ini Pesan Gus Is saat Khotbah Ied di Nurul Muttaqin
Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Besar Nurul Muttaqin dipimpin sekaligus diisi khutbah oleh KH Isroqunnajah. Beliau merupakan Ketua PCNU Kota Malang sekaligus Ketua MUI Kota Malang. Sosok yang akrab disapa Gus Is ini juga dikenal sebagai akademisi yang mengajar pada Program Studi Hukum Keluarga Islam.
Dalam khutbahnya, Gus Is menyampaikan sejumlah pesan penting kepada jamaah. Beliau mengulas makna bulan Ramadan sebagai madrasah atau tempat menempa keimanan, sekaligus sebagai solusi atas berbagai problematika sosial di masyarakat. Menurut beliau, puasa tidak hanya sebatas menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang empati sosial.

“Puasa mengajarkan kita untuk merasakan lapar. Jika selama Ramadan kita hanya merasakan lapar sesaat, ada sebagian orang yang justru mengalaminya hampir setiap hari,” ujarnya.
Beliau juga menyoroti tradisi berbagi takjil dan makanan berbuka puasa yang dinilai sebagai bentuk kepedulian sosial. Tradisi tersebut, kata beliau, menjadi bukti nyata empati terhadap kaum fakir miskin.
Lebih lanjut, Gus Is mengingatkan pentingnya zakat fitrah yang ditunaikan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Zakat, menurut beliau, menjadi pengingat bahwa harta tidak semata untuk dimiliki secara pribadi, melainkan harus didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.
“Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita berupaya memperkecil kesenjangan antara yang mampu dan yang kurang mampu,” jelasnya.
Beliau juga menyinggung berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi masyarakat, seperti judi online, praktik riba, dan kesulitan ekonomi. Persoalan tersebut semoga dapat diminimalisasi dengan kecerdasan financial dan kepedulian sosial bagi sesama muslim.
Selain itu, beliau menyoroti tantangan di era modern berupa derasnya arus informasi. Beliau mengingatkan pentingnya sikap tabayyun atau klarifikasi dalam menerima informasi, serta menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat.


Dalam konteks kehidupan sosial, beliau juga mengajak umat Muslim untuk mampu menahan amarah dan saling memaafkan.
Menurut beliau, keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari pelaksanaan ibadah selama satu bulan, tetapi dari kemampuan menjaga konsistensi (istiqamah) setelahnya. Beliau mengingatkan agar umat tidak terlena dengan euforia bulan Syawal sebagai bulan kemenangan hingga melupakan amalan-amalan yang telah dibiasakan selama Ramadan.
Di akhir khutbah, beliau mengajak jamaah untuk merefleksikan keberlanjutan ibadah setelah Ramadan. Beliau mempertanyakan apakah kebiasaan baik selama Ramadan, seperti tadarus Al-Qur’an dan salat berjamaah, dapat terus dijaga pada bulan-bulan berikutnya.
